Make a blog

haibogor212

1 year ago

Mengenang Jatuhnya Bogor ke Dai Nippon Maret 1942 - Part I

Orang Indonesia banyak yang mengetahui sejarah terbebasnya negeri ini dari tangan penjajah, namun tidak banyak yang tahu rangkaian peristiwa yang membuka jalannya pintu kemerdekaan tersebut termasuk invasi Jepang ke pulau Jawa melalui beberapa pertepuran dahsyat yang tidak saja melibatkan sekutu, tapi juga pasukan Indonesia.

Catatan mengenai kekalahan pasukan sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris, Belanda, Australia, dan Amerikat Serikat oleh pasukan imperial Jepang (Dai Nippon) pada bulan Maret 1942 jarang diceritakan secara detail, salah satu peristiwa yang penting buat kita orang Bogor adalah peristiwa jatuhnya Kota Hujan ke tangan Jepang sekaligus menandai kekalahan telak pasukan Sekutu pada saat itu.

Beberapa pertempuran penting yang dilakukan sekutu dalam mempertahankan Bogor meletup di berbagai wilayah termasuk Leuwiliang, sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor yang dahulu dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu ajang pertempuran Perang Dunia II di Pasifik, khususnya di pulau Jawa-Indonesia. Padahal Leuwiliang banyak ditulis di berbagai situs yang memuat tentang invasi Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, sebagaimana yang dimuat di Militarian atau The Conquest of Java Island, March 1942, atau Dutch East Indies Campaign, Java –World War II Database.

Pendaratan Jepang di Pulau Jawa, Maret 1942

Setelah meluluhlantakkan pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, pasukan Jepang mendarat di tiga titik di pantai Jawa pada 1 Maret 1942. Pada malam28 Februari - 1 Maret 1942, 16 tentara Jepang mendarat di tiga lokasi di pantai Jawa Barat: lebih dari 20.000 tentara di dekat Merak dan di Teluk Banten di ujung utara-barat Jawa dan dua hari kemudian menemui resistensi dan terhambat, terutama pada jembatan-jembatan yang telah diledakkan pasukan sekutu. Hanya di Leuwiliang, di sebelah barat Buitenzorg, perlawanan yang kuat dari pasukan Australia berhasil menahan mereka untuk sementara waktu.

Pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Kerajaan Belanda Hindia Angkatan Darat Jenderal Hein Ter Poorten, dilengkapi oleh 25.000 orang Indonesia di bawah komandonya; meskipun jumlah itu tergolong besar, sebagian besar adalah laki-laki dewasa yang kurang terlatih. Pasukan Belanda dibagi menjadi dua resimen yang menjaga wilayah Jakarta, dan satu resimen menjaga masing-masing daerah utara, pusat, selatan, dan timur pulau.

Sebuah garnisun yang terdiri dari 7.000 pasukan Inggris, Australia, dan Amerika, di bawah komando Mayor Jenderal Inggris HDW Sitwell, disiapkan untuk membantu 3.500 pasukan Inggris yang didukung oleh unit anti-pesawat, 2.500 orang Australia dengan nama pasukan ‘Blackforce’ di bawah pimpinan Brigadir Arthur Blackburn, 1.000 pasukan Amerika dari Batalion ke-2 dari Artileri 131, Texas National Guardunit, ikut memperkuat Blackforce.

Jepang mendarat di Teluk Banten dekat Merak pada pukul 23.20 pada 28 Februari. Captain FAM Harterink dari Tentara Royal Dutch Yonif 12 mempertahankan pantai dengan senapan mesin, tapi kekuatan invasi begitu besar dan cepat menyapu pertahanan pasukan Sekutu.

Operasi selesai pada pukul 02.00 dan pada 1 Maret setelah fajar menyingsing, Jepang mendirikan kantor pusat di Serang dengan tiga detasemen. Nasu Detasemen bawah pimpinan Mayor Jenderal Yumio Nasu diperintahkan untuk merebut Buitenzorg (Bogor) untuk memotong rute pelarian dari Batavia (Jakarta) ke Bandoeng, sementara detasemen Fukushima dan Sato, di bawah pimpinan Kolonel Kyusaku Fukushima dan Hanshichi Sato, masing-masing, menyerang Batavia melalui Balaradja dan Tangerang.

Detik-detik jatuhnya Bogor pun berada di ambang mata...

(Bersambung..)

berita bola terlengkap